Dokter Tirta Mandira Budhi (Ist)
Dokter Tirta Mandira Budhi (Ist)

Sosok dokter nyentrik yang juga influencer sneakers di Indonesia bernama Tirta Mandira Hudhi kini tak asing lagi bagi masyarakat. Walau, namanya kini lebih banyak diperbincangkan terkait perlawanan sengitnya atas virus corona yang telah merenggut 58 jiwa per 25 Maret 2020 kemarin.

Dokter Tirta yang lama tak lagi berkiprah di dunia kesehatan,l kembali bergerak saat virus corona menghantam Indonesia. Militansinya melawan corona semakin menjadi-jadi saat para petugas medis gugur satu per satu, tak terkecuali sosok yang jadi panutannya saat dirinya menimba ilmu kedokteran di UGM, yaitu Prof Iwan Dwiprahasto, yang meninggal karena virus corona.

"Gue saat itu lagi wawancara bareng @GENFM_jkt. Gue nangis ketika wawancara. Gue down. Mood gue brantakan saat itu. Karena beliaulah, yg membuat gue seperti ini," tulis Tirta di akun Twitternya, @tirta_hudhi.

Kabar meninggalnya Prof Iwan yang telah menggugah saat dirinya enjoy di dunia usaha  cuci sepatu bernama Shoes and Care serta kini telah memiliki sekitar 19 workshop yang tersebar di berbagai kota Indonesia. Dan, Tirta pun meluruskan niat dan membajakan semangatnya untuk ikut serta melawan virus corona.

"Gue memutuskan meneruskan legacy beliau. Gue akan bantu sebisa gue...Mau gue sampe sakitpun, gue ga peduli.," ujarnya.

(sumber Facebook dan Twitter dr Tirta)

Bersama timnya kini, Tirta pun terus bergerilya untuk mengenyahkan virus corona yang terus meluas di Indonesia dengan berbagai keterbatasan yang juga menimpa para pejuang garda depan melawan corona, yaitu paramedis di berbagai RS rujukan, serta cepatnya virus menyebar dan menginfeksi warga hingga saat ini.

Perlawanannya itu pun diakui Tirta sangat melelahkan dirinya. "Gue bergerak, 14-15 jam sehari. Kadang 20 jam. Capek. Tapi gue semangat. Ini sumpah gue," ujarnya di akun Twitter.

Dari pengakuan Tirta pun, meluncur kisah dan janjinya untuk habis-habisan melawan corona sampai titik darah penghabisan. "Selama angka infeksi tinggi, gue ga akan brenti berjuang. sampe titik darah penghabisan. Gue akan lawan ini virus. Ini sumpah dokter," tandasnya. 

Perjuangannya itu pun mendapat apresiasi banyak kalangan. Sebut saja @kitabisacom dan @dompetdhuafaorg yang ikut serta mendukung program donasi untuk virus corona. Namun, ada juga yang menyampaikan apa yang dilakukan Tirta "ada udang dibalik batu".

 Hal itu yang membuat berbagai kalangan yang mengetahui sepak terjang Tirta langsung pun menyemburkan kejengkelannya kepada para pihak tersebut. Pemilik akun YouTube InCipeng WeTrust -yang khusus membahas tentang sepatu dan perawatannya serta telah memiliki  147 ribu subscriber- serta inisiator Solevacation -sebuah festival berbasis komunitas para pecinta sneakers dan streetwear- akhirnya juga menegaskan rumor dan tuduhan miring itu.

"Pekara uang gue dah settle. Toko gue dah puluhan. Bisnis gue banyak. Jika gue kenapa2, tugas gue di dunia pun dah slesai sejatinya," cuitnya.
"Ini pekara sumpah yg gue ambil. Dokter. Gue akan jaga kawan2 gue di garda igd. Meski nyawa gue taruhannya. Followers, harta, popularitas, itu sementara. So, itulah alesan gue ngegas. Sampe salah ngmng di ILC kmren," lanjut Tirta. Dia menambahkan, dirinya bersama kawan-kawan sehaluan akan terus berjuang dengan berbagai tantangan dan penilaian itu.

(sumber Facebook dan Twitter dr Tirta)

Kisah dokter dengan penampilan nyentrik ini pun merambah ke masa dirinya di usia 8 tahun. Masa di mana dirinya juga merasakan bagaimana terinfeksi penyakit pernapasan dalam sepanjang kehidupannya. Berkali-kali drop karena penyakitnya itu hingga harus memilih untuk rehat di dunia kesehatan dan memilih dunia usaha.
"Sedih memang. Tapi kalo gue memaksa praktek + pengusaha, gue akan mati muda," ujarnya lalu tertawa.

Dari pengakuan Tirta, saat usia 8 tahun dirinya terinfeksi TBC gegara tertular dari temannya yang batuk di depannya. Penyebaran bakteri TB melalui airbone ini juga yang dimungkinkan menimpa paramedis yang merawat pasien positif corona.

Enam bulan mengikuti program penyembuhan, Tirta ternyata gagal dan harus menambah waktu ekstraknya selama 4 bulan hingga dirinya dinyatakan sembuh. "Gue diprediksi abis itu divonis jadi orng yg “sakit2 an". Paru2 gue gambarannya selalu “flek”," ucapnya.

Prediksi itu menjadi kenyataan. Sampai menginjak SMA, Tirta terkena berbagai macam penyakit pernapasan, dari faringitis, laringitis, tonsilitis, bronkitis, dan sinusitis. Kondisi itu tak menyurutkan semangat belajarnya. Di tengah berbagai deraan penyakit itu, prestasi akademiknya moncer. Berbagai prestasi disabetnya sejak SD hingga SMA.

Kondisi sakit-sakitan juga yang membuatnya saat SMA memberi target tinggi untuk jenjang kuliah. Tak hanya untuk pelampiasan tapi juga sebagai bentuk pembuktian dirinya sendiri. "Gue memutuskan masuk dokter, selain karena standar tertinggi, gue pengen buktiin, dari SMA swasta gue bisa tembus UGM," ceritanya.

Di Kota Gudeg itulah, Tirta yang kuliah kedokteran juga berkecimpung jadi pengusaha serta membuktikan dirinya mampu melahap berbagai mata kuliah kedokteran dengan menyelesaikan SKS hingga tahap penyelesaian skripsi di semester 6. 

Di tahap itu pula dirinya mendapat tawaran beasiswa penelitian ke Belanda dari dr Jarir dan Prof Iwan yang meninggal karena corona 24 Maret 2020.

Tirta pun setelah lulus kuliah menjadi dokter IGD dan dokter jaga di RS UGM dan Puskesmas Turi. Tapi, kondisi kesehatannya yang akhirnya membuatnya harus memilih. Tetap jadi dokter dengan kondisi sakit setiap bulan sekali atau fokus di dunia usaha yang mulai terus berkembang sambil tetap mengamalkan ilmunya sebagai dosen tamu di FK UGM.

(sumber Facebook dan Twitter dr Tirta)

Takdir kembali mempertemukannya dengan Prof Iwan. Kisah Tirta, ada hal yang tak bisa dilupakannya hingga kini terkait pernyataan Prof Iwan.

"Prof iwan bilang “jadi dokter ga selalu berjuang di belakang jas praktek, bisa di kursi laen, di situ ide kamu akan berguna, ga hanya buat pasien, tapi buat temenmu, tenaga medis. Tirta, berjuanglah dengan caramu sendiri," tuturnya.

Prof Iwan juga menyampaikan, "Tabunglah uang dr usahamu, berjuang, naekkan derajat tenaga medis, amankan pasien, buat rs ! Siapa tau kamu bisa !”

Tapi takdir berbicara lain. Prof Iwan meninggal dunia, para dokter dan petuga medis lain juga bertumbangan. Korban virus Corona juga terus bertambah. "Disitulah gue mati2 an, gue ga mau liat temen gue,  tenaga medis, down, gue berjuang. Beli masker sendiri, cari apd sendiri, dan akhirnya gue di undang BNPB," ujar Tirta.

Dari sanalah perlawanan Tirta dimulai. Mengkoordinasikan semua sumbangan Influencer untuk program membantu mengurangi rate infeksi covid-19 di Jakarta dan Indonesia. Yang pada awalnya dananya dari saku pribadi Tirta, hingga akhirnya organisasi nirlaba lainnya mulai membantunya.

Berbagai program pun telah berjalan untuk melawan virus corona. Dari pemasangan 1.000 disinfektan Chamber di Jakarta, pembagian APD bagi paramedis di Fasilitas Kesehatan, nutrisi, hingga edukasi hidup bersih sehat dan social distancing ke masyarakat.

"Negara ini butuh bantuan, jika angka infeksi ga bisa ditekan, Indonesia bisa krisis corona sampe Juni. Dan ini bahaya. Satu-satunya cara, ya menekan angka infeksi. Disinilah peran relawan Covid-19," tandas Tirta.