Ilustrasi, net
Ilustrasi, net

Penerima bantuan sosial berupa Sembako di Desa Sambitan Kecamatan Pakel mengeluh. Pasalnya, jatah dua bulan yang seharusnya diterima oleh sekitar 120 warga, hingga kini belum juga dibagikan.

"Yang bertugas membagikan (salah satu perangkat) baru punya hajat, hingga kini bantuan belum diterima," kata salah satu warga sebut saja Sari (samaran).

Menurut Sari, bantuan berupa beras dan telur itu selalu rutin dibagikan tiap bulan meski untuk mengambil jatah beras, dirinya harus mengeluarkan uang 5000 Rupiah dengan alasan untuk konsumsi petugas.

"Dipungut katanya untuk konsumsi tim yang akan membagikan," kata Sari.

Untuk warga yang mendapatkan batuan uang melalui ATM, menurutnya dikenakan potongan Rp 10 ribu.

"Dulu alasannya untuk bayar pikup yang mengangkut warga menuju Kecamatan, mau ikut atau tidak tetap bayar," lanjutnya.

Menanggapi hal itu, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kecamatan Pakel yang juga pendamping Bansos Sembako Adi Warjono, membenarkan jika barang yang sudah dikirim lebih dari seminggu ke desa Sambitan memang belum dibagikan.

"Saya tanya ke pak Kamituwo (yang membagikan), kapan akan dibagikan katanya setelah hari Kamis (27/02) hari ini," kata Adi.

Menurut Adi, kendala yang distribusi bukan pada pihaknya dan distributor yang mengirim, namun kendalanya pada yang menangani di Sambitan Pakel.

"Kendalanya itu di Pakel, desa lain tidak ada kendala," jelasnya.

Adi membenarkan jika pada bulan Januari ada keterlambatan karena baru tutup tahun dan buka buku tahun di awal 2020 lalu.

"Bulan Januari dari kementerian memberikan edaran, uang yang dikirim ke rekening di atas tanggal 20 Januari dan baru pada tanggal 29 Januari saldo bisa dilihat," jelasnya.

Kemudian, droup out beras dari Bulog baru dilakukan diatas tanggal 10, untuk Januari 2020 ini kwalitas berasa medium dan menurut Adi yang bukan Februari kwalitas premium.

"Itupun bisa droup out dari Bulog diatas tanggal 28 Februari 2020 besok," paparnya.

Kembali ke Sambitan, Adi sebagai pendamping penyaluran Sembako takut jika tidak segera dibagikan barang akan kedaluwarsa.

Untuk uang 5000 yang dikatakan merupakan pungutan, Adi membantah. Menurutnya, uang itu tidak dipatok tapi seikhlasnya untuk di belikan beras lagi dan disalurkan bagi warga yang belum mendapat bagian.

"Tolong dicatat, itu iuran ya yang akan d belikan beras dan dibagikan lagi ke warga yang tidak menerima bantuan Sembako itu," paparnya.

Sementara saat dihubungi, Bakri Kepala Dusun atau Kamituwo yang bertugas tidak merespons. Namun kepala desa Sambitan, Sugiono menegaskan jika bantuan Sembako selama ini tidak ditangani oleh dirinya, namun oleh salah satu perangkat desa (Kamituwo).

"Saya kurang tau yang menangani, yang saya tau pendampingnya dari luar desa Sambitan atau dari desa Sodo," papar Sugiono.

Senada dengan Adi Warjono, Kepala desa Sambitan meluruskan jika jatah Sembako yang dibagikan ke warga ada yang tidak rata meskipun warga yang tidak menerima dianggap layak.

"Jadi uang itu dibelikan beras dan disalurkan lagi bagi yang tidak mendapat bantuan Sembako itu. Untuk lebih jelasnya silakan ditanyakan ke yang menangani," pungkasnya.