Pakar pengairan, Mohammad Bisri (baju putih) didampingi Wali Kota Malang Sutiaji (dua dari kanan) saat meninjau praktek pembuatan Sumur Injeksi di Halaman Kantor Kecamatan Blimbing, Selasa (11/2) (Foto: Humas Pemkot Malang)
Pakar pengairan, Mohammad Bisri (baju putih) didampingi Wali Kota Malang Sutiaji (dua dari kanan) saat meninjau praktek pembuatan Sumur Injeksi di Halaman Kantor Kecamatan Blimbing, Selasa (11/2) (Foto: Humas Pemkot Malang)

Ancaman banjir di Kota Malang masih belum menemui solusi yang mumpuni. Upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah kota (Pemkot) Malang untuk mengatasi banjir terus digalakkan, dengan bakal dipasangnya sumur injeksi di berbagai wilayah kelurahan.

Memang, saat ini mengawali itu Kecamatan Blimbing menjadi percontohan keberadaan sumur injeksi untuk wilayah lainnya. Lalu, benarkah program ini bakal menangkal banjir?

Pakar pengairan, Mohammad Bisri menyebut saat ini Kota Malang memang harus menaikkan level siaga banjir. Banyaknya kejadian banjir di titik-titik wilayah, harus menjadi kewaspadaan.

Nah, keberadaan sumur injeksi dikatakannya sebagai salah satu teknologi penunjang untuk mengatasi banjir dan genangan. Ia menjelaskan, bahkan fungsinya lebih banyak dari hanya menanggulangi persoalan banjir.

Apalagi, ia menilai pengambilan air tanah di Kota Malang ini sudah terlalu banyak. Dikatakannya, hotel bisa mengambil air hingga 200 meter, penduduk sekiranya 5 meter. Namun, injeksinya tidak pernah ada.

"Yang paling pokok tetap saluran drainase, lalu disandingkan dengan sumur injeksi yang fungsinya banyak sekali. Selain mengurangi genangan air, juga bisa untuk menampung air, menyimpan, jadi ini luar biasa," ungkapnya, saat menghadiri Launching Bank Sampah Blimbing Sinam serta peninjauan praktek pembuatan Sumur Injeksi di Halaman Kantor Kecamatan Blimbing, Selasa (11/2).

Dijelaskannya, sumur injeksi juga mampu untuk mengurangi Land subsidence (penurunan tanah). Yang mana hal itu sudah dialami kota metropolitan Jakarta, dan apabila itu dibiarkan bukan tidak mungkin menjadikan sebuah kota tenggelam.

"Jadi di Jakarta kenapa tanah turun karena airnya disedot, hilang dan diisi kerikit. Akhirnya turun sampai satu meter, jadi di Kota Malang saya kira jangan sampai seperti itu maka gerakan ini perlu," jelas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Pertimbangan Percepatan Pembangunan Daerah Kota Malang itu.

Selain itu, manfaat lainnya diutarakannya mampu untuk meningkatkan suhu lingkungan. Sehingga semakin banyak sumur injeksi, maka  sebuah wilayah akan semakin dingin.

"Contoh kongkrit ada di Glintung, Go Green (Kelurahan Purwantoro), sekarang suhunya turun 2 derajat, jadi ini menurunkan suhu panas kita. Jadi sangat banyak manfaatnya, selain menangkal banjir juga untuk konservasi lingkungan," jelasnya.

Namun, hal ini juga bukan satu-satunya solusi dalam mengatasi persoalan banjir. Saluran drainase juga harus bebas dari sumbatan sampah. Sehingga, hal yang paling efektif yakni dengan mengombinasikan keduanya.

"Jadi sekali lagi ini bukan satu-satunya solusi banjir, harus kombinasi. Ya embung (cekungan penampung), ya saluran. Tapi yang pasti, ini (sumur injeksi) manfaatnya lebih banyak dibanding saluran," pungkasnya.