Kepala DPMPTSP Kota Malang Erik Setyo Santoso (kiri) saat berfoto di acara East Java Investment Festival 2019. (Foto: Dokumen MalangTIMES)

Kepala DPMPTSP Kota Malang Erik Setyo Santoso (kiri) saat berfoto di acara East Java Investment Festival 2019. (Foto: Dokumen MalangTIMES)



Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) akan memetakan potensi lokal daerah guna menarik investasi. Salah satunya, untuk membangun 10 kota metropolitan baru. Menyambut hal itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang bakal segera melakukan deregulasi aspek-aspek perizinan untuk memberi kemudahan pada para investor.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Malang Erik Setyo Santoso mengungkapkan, selain pemetaan potensi itu, Bappenas juga akan melakukan sinkronisasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah. "Peningkatan nilai investasi pastinya akan sangat bergantung cara daerah bisa menciptakan iklim dan ekosistem untuk pertumbuhan ataupun pengembangan usaha," terangnya.

"Karena itulah, Pemkot Malang dalam waktu dekat ini akan segera melakukan deregulasi aspek-aspek perizinan," tambah pria yang juga menjabat Plt Kepala Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Barenlitbang) Kota Malang itu. Contoh deregulasi itu, lanjutnya, seperti pemusatan perizinan di DPMPTSP, tidak lagi tersebar di berbagai organisasi perangkat daerah (OPD). Misalnya dalam hal perizinan pendirian sarana kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. 

Hal tersebut, diharapkan bisa mempermudah para investor yang ingin membangun usaha atau menanamkan modal di Kota Malang. Pemusatan perizinan itu juga untuk mengurangi jangka waktu yang dibutuhkan dalam memproses izin-izin usaha. Artinya, investor tidak lagi harus bolak-balik dari satu dinas ke dinas lain untuk memenuhi seluruh aspek legalitas yang dibutuhkan. "Sehingga, untuk berusaha di Kota Malang, bisa dilakukan dengan mudah dan didukung oleh legalitas suatu bentuk usaha," tegasnya.

Dia pun optimis Kota Malang akan menjadi salah satu kota yang dipertimbangkan oleh pemerintah pusat untuk dikembangkan menjadi kota metropolitan. Pasalnya, sebagai kota terbesar kedua di Jawa Timur, persyaratan-persyaratan pengembangan kategori perkotaan sudah terpenuhi. "Bentuk-bentuk investasi yang saat ini sedang berkembang pesat adalah ekonomi kreatif (ekraf). Ini seiring dengan perkembangan teknologi informasi," sebutnya.

Selain ekraf, lanjut Erik, berbagai bidang pun masih sangat terbuka untuk dikembangkan. Penguatan jati diri sebagai kawasan wisata Malang Raya, menurutnya juga menjadi faktor penguat madu investasi di Kota Malang. "Sektor properti, jasa dan perdagangan serta kuliner saat ini juga masih menjadi penyumbang dominan dalam nilai investasi dan pertumbuhan ekonomi Kota Malang," sebutnya. 

"Perizinan dengan mekanisme one stop service dan online yang saat ini dirintis, diharapkan bisa menunjang iklim investasi ini," pungkas pria asal Kediri itu. Untuk diketahui, Bappenas tengah mencanangkan untuk membangun 10 kota metropolitan baru. Caranya dengan memperkuat sektor ekonomi di daerah, misalnya sektor industri dan pariwisata.

Dilansir dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 tingkat pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 5,4-6,0 persen, dengan prakiraan investasi yang dibutuhkan sekitar Rp 36.595,6 triliun sampai Rp 37.447,6 triliun.

Guna mewujudkan proyek strategis, pemerintah menyusun rencana pembiayaan yang banyak melibatkan swasta, karena kemampuan pembiayaan dari APBN hanya sekitar 20 persen. Sehingga pemerintah daerah perlu mempertajam dan memperlancar regulasi bagi masuknya investasi jangka panjang.


End of content

No more pages to load