Ilustrasi pilkada 2020 (Ist)

Ilustrasi pilkada 2020 (Ist)


Pewarta

Dede Nana

Editor

Heryanto


Magnet PDI Perjuangan Kabupaten Malang terbukti masih menarik para bakal calon (balon) Bupati dan Wakil Bupati Malang dari non partai dalam Pilkada Serentak 2020. 

Tercatat sudah ada 6 orang yang mendaftar untuk ikut serta dalam kontestasi Pilbup Malang 2020 mendatang.

Keenam balon tersebut memiliki latar belakang berbeda namun memiliki peluang yang sama memenangkan pertarungan dalam Pilbub Malang 2020. 

Ada Sekretaris Daerah (Sekda) Didik Budi Muljono dengan latar birokrat yang tentunya telah kenyang makan garam dunia pemerintahan.

Pengusaha Wibi Dwi A, Wahyu Eko Setiawan (WES) dan Hendik Arso Marhein, Kepala Desa (Kades) Pujiharjo, Tirtoyudo yang juga merupakan Ketua Koordinator Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Papdesi) Kabupaten Malang.

Terbaru adalah dua kader terbaik Nahdlatul Ulama (NU) yang menambah panjang balon bupati dan wakil bupati lewat Banteng moncong putih ini. 

Yakni Ketua Pengurus Cabang NU Kabupaten Malang Umar Usman dan Hasan Abadi yang merupakan kader NU sekaligus rektor Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Kepanjen.

Dua figur NU yang mendaftar ke PDI Perjuangan, sontak menimbulkan berbagai pertanyaan di masyarakat. 

Pasalnya, selain telah begitu ramai digadang-gadang keduanya akan berada di bawah bendera PKB. Keduanya juga memiliki posisi sentral di tubuh NU.

Ada apakah dengan PKB dan begitu besarkah magnet PDI Perjuangan bagi mereka yang akan ikut dalam Pilkada 2020 mendatang?

Tak heran jika banyak kalangan mempertanyakan mengapa banyak figur yang latar belakangnya sosial keagamaannya dekat dengan PKB justru memilih lewat PDIP?. 

Bukankah PKB sejak awal diprediksi banyak kalangan akan jadi kendaraan bagi para kader NU? 

Beredar juga anggapan bahwa PKB sudah mengunci calonnya tanpa gembar gembor ke masyarakat terkait figur yang akan diusung.

Sayangnya, belum ada keterangan resmi dari PKB Kabupaten Malang terkait persoalan tersebut.

Baik dari Ketua PKB Ali Ahmad atau Gus Ali maupun dari para pengurus terasnya, terutama dengan hijrahnya para kader potensial NU ke pelukan parpol lain.

Dua figur NU ini pun tidak menyampaikan secara langsung, terhadap pilihannya itu. 

Hasan Abadi, misalnya yang cukup unik juga karena kedatangannya ke kandang banteng, diantar belasan Ketua PAC PDI Perjuangan, hanya mengatakan karena mengaku satu visi. 

"Visi PDI-Perjuangan sama dengan saya yakni sama-sama memperjuangkan nasib wong cilik. Apalagi NU juga bagian dari masyarakat grass root (wong cilik)," ucap Hasan, Rabu (11/09/2019).

Selain hal tersebut, Hasan juga mengatakan, dirinya banyak mendapat dorongan dari kawan-kawan PAC PDI Perjuangan, santri dan kaum milenial untuk merapat ke banteng moncong putih. 

"Apalagi PDI Perjuangan juga merupakan partai pemenang, sehingga siapapun akan tertarik mengikuti proses penjaringan di sini," imbuhnya.

Hasan pun semakin yakin dengan pilihan hatinya saat mendaftar ke PDI Perjuangan, setelah mendapat restu dari para ulama dan kiai.

Umar pun hampir senada menyatakan pilihannya. 

Selain dirinya juga menegaskan, kenapa harus berlabuh ke PDI Perjuangan bukannya PKB.

"Karena PDI P yang paling serius menghadapi Pilkada 2020, dengan membuka pendaftaran terlebih dahulu. Selain itu niatan merukunkan nasionalisme dan religius pun saya dengan PDI sama," ujar Umar yang juga menyatakan bahwa PDI Perjuangan juga merupakan partai pemenang di Kabupaten Malang.

Dorongan dan saran dari para kiai dan ulama juga menjadi pendorong Umar mantap untuk masuk dalam barisan PDI-Perjuangan. 

"Jadi berbagai saran para kiai juga semakin memantapkan saya ikut di gerbong PDIP ini," imbuh Umar.

Enam balon tersebut, tentunya akan semakin menarik untuk dilihat nantinya. 

Siapakah yang akan mendapat rekom dari PDI Perjuangan dan menjadi calon yang akan bertarung di tahun 2029 datang.


End of content

No more pages to load